Roma, Day 1

Tak pernah disangka, saya berkunjung ke kota ini. Rasanya, saya seperti mendapatkan golden tiket menuju ke Roma. Sebelum menuju ke sini, saya harus menjalankan rangkaian meeting dengan beberapa perusahaan di Bologna. Setelah perjalanan bisnis selesai, saya bergegas berangkat ke Roma.

Awalnya, perjalanan saya bersama 3 orang teman kantor lainnya. Namun, hanya kami berdua yang pergi ke Roma, sedangkan dua teman kami pergi ke Florence. Tapi kami masih satu kereta dari Bologna sampai tempat tujuannya masing-masing.

Day 1

Perjalanan saya dan salah satu teman kantor, sebut saja Miss Bebek, berawal dari kereta Bologna – Roma. Kami sudah membeli tiket online sejak di Jakarta. Kami menggunakan kereta Trenitalia dengan kelas ekonomi. Walaupun kelas ekonomi, tapi harganya mahal juga. Namun, jangan disamakan dengan kualitas ekonomi di Indonesia ya.

Perjalanan dari Bologna ke Roma, kurang lebih menempuh waktu 2 jam. Jujur saja, kami berdua belum pernah berkunjung ke Eropa hanya berdua saja! Kami hanya berbekal Eyewitness Travel TOP 10 Roma terbitan kami, saya rasa cukup untuk mengelilingi Roma. Sesampainya di Termini Station, kami langsung mencari Cresy Hotel yang sudah kami booking sebelumnya melalui www.booking.com Hotel ini tidak terlalu jauh dari Termini Stations, namun kami cukup kerepotan dengan koper besar yang kami bawa! Kami harus menggeret koper besar menuju hotel.Maklum saja, kami tidak bisa bergaya ala backpacker karena sebelum perjalanan ini, kami harus meeting dengan perusahaan lain. Nggak mungkin dong, meminimalisasikan barang bawaan.πŸ˜€

Cukup mudah untuk menemukan hotel kami yang hanya beberapa blok saja dari Termini Station. Hotel ini cukup unik, karena berada di lantai 5, untungnya hotel ini dilengkapi lift yang cukup sederhana untuk menuju lantai 5. Memang, hotel ini setara hotel melati, harganya juga cukup murah. Maklum, untuk perjalanan di Roma ini harus menggunakan uang sendiri, jadi harus mengirit. Beda sekali dengan hotel kami di Bologna. But, we loved this hotel!

Setelah, menaruh koper, kami pun lanjut melakukan city tour menuju St. Peter Basilica. Perjalanan ke St. Peter Basilica kami tempuh dengan naik metro dari Termini Station. Di stasiun ini memang cukup ramai, karena seluruh transportasi dalam kota maupun ke luar kota berada di sini.

Sesampainya di sana, kami shock melihat antrian yang panjan seperti ular yang melingkar-lingkar. Niat kami untuk masuk ke St. Peter Basilica kami urungkan. Memang katanya, kalau hari sudah siang antrian panjang sekali. Sebenarnya sih, antrian itu adalah antrian security check saja, bukan antrian bayar tiket. Akhirnya, kami berniat kembali ke St. Peter Basilica besok pagi saja.

Kami pun langsung menuju Vatican, salah satu negara terkecil di dunia. Cukup lama kami berputar-putar di dalam Museum Vatican ini. Museum ini cukup ramai dikunjungi turis-turis dari mancanegara

Banyak sekali ornamen-ornamen yang membuat saya terkagum-kagum melihatnya. Hingga akhirnya saya masuk ke sistine chapel. Saya mengagumi lukisan Michael Angelo di plafond. Kok bisa ya beliau melukis di langsung di plafond? Namun sayangnya, saya tidak bisa mengambil foto di dalam sistine chapel ini. Walaupun banyak turis-turis yang masih bandel mencuri-curi foto.

Selesai berputar-putar dan berfoto-foto, kami keluar dari Vatican Museum. Sore itu, udara tidak terlalu dingin, saya langsung membeli gelato yang ada di cafe pinggir jalan. Harganya tidak terlalu mahal, cuma 1,5 euro. Rasanya memang beda dengan gelato yang dijual di Jakarta.

Saya dan Miss Bebek naik Metro dan kembali ke Termini Station. Di stasiun ini, saya berkeliling ke toko-toko yang ada. Memang cukup lengkap untuk ukuran stasiun. Benetton, Swatch, MC Donalds, merk-merk yang saya tau ada di stasiun ini. Saya menyempatkan untuk masuk ke toko Benetton. Rasanya kalau tidak belanja, sayang sekali ya. Saya pun membeli dompet yang memang saya butuhkan. Setelah itu, saya mencari toko lainnya, dan terdampar di sebuah toko baju. Di sinilah, saya berbelanja kembali. Saya membelikan oleh-oleh berupa aksesoris untuk sahabat-sahabat saya di kantor. Pembelian oleh-oleh memang sudah menjadi tradisi dalam persahabatan kami, setiap salah satu dari kami pergi berlibur. Untuk mereka, oleh-oleh bukan hanya sekedar benda-benda yang bertuliskan kota tempat yang dikunjungi seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, dll. Mereka lebih suka dengan oleh-oleh yang bisa dipakai di badan, seperti aksesoris. Saya memilihkannya berdasarkan jenis mereka! Maksudnya jenis di sini, aksesoris yang saya pilih yang memang ‘mereka banget’!

Selesai sudah berbelanja di Termini, kami pun kembali ke hotel. Senang rasanya bisa berbelanja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s