Lahiran yang Kedua

Sabtu, 13 Oktober 2012, Aurinko minta ditemenin naik sepeda ke rumah om-nya Aurinko yang masih satu komplek. Jadilah Aurinko kita temenin naik sepeda, yah hitung-hitung jalan-jalan untuk memperlancar proses pembukaan. Mengingat saat itu, saya sudah 39 Minggu dan masih belum ada kontraksi yang hebat! Kali aja setelah jalan-jalan di komplek rasa mules beneran bisa muncul. Setelah cukup lama main di rumah si om, kita pun balik lagi ke rumah. Sampai rumah, Aurinko tidur siang, jadi pengen ikut tidur juga, tapi nggak bisa, ada rasa sakit di perut. Tiba-tiba, sekitar jam 14.30 kontraksi dan mules datang. Mulailah menghitung memakai stopwatch di handphone.Kontraksi mulai teratur sekitar 8 menit sekali. Kontraksi kali ini beda! Selain kontraksi atau perut kenceng, ada rasa sakit di tulang belakang. Akhirnya kami memutuskan langsung ke rumah sakit saja.

Lahiran yang kedua, rumah sakit dan dokternya masih sama dengan yang pertama. Rumah Sakit Bersalin Duren Tiga dan Dr. Fachruddin, SpOG. Memang jaraknya jauh dari rumah saya (Jatisampurna-Duren Tiga). Tapi karena saya cinta dan setia sama dokternya, yah jauh juga nggak jadi masalah buat saya dan suami.

Di dalam bayangan saya, kalau tiba waktunya lahiran, Aurinko nggak perlu ikut ke rumah sakit. Tapi kayaknya nggak mungkin kalau ditinggal, pasti bakalan pengen ikut. Saya juga nggak tega sih ninggalin Aurinko di rumah. Jadilah kedua mertua saya ikut ke rumah sakit untuk menemani Aurinko saat proses kelahiran nanti. Perjalanan dari rumah ke rumah sakit butuh waktu 1 jam. Di selang-selang rasa sakit kontraksi, saya masih bisa ber-BBM ria dan ber-WhatsApp’ ria sama teman-teman. Ceritanya ingin melaporkan bahwa lahiran akan sebentar lagi. Semua teman-teman panik mendengar saya sudah mulai kontraksi hebat. Tapi saya masih bisa santai. Saya juga sudah merasa kalau saat itu sudah ada pembukaan kira-kira, yah 3 atau 4.

Begitu sampai di rumah sakit, saya langsung turun sendiri, dan ngeluyur langsung ke bagian pendaftaran, selagi suami parkir. Buat saya, saat itu saya masih bisa jalan, jadi nggak perlulah adegan digandeng-gandeng sama suami atau yang lainnya. Setelah daftar, langsung disuruh ke UGD, untuk cek detak jantung. Alat rekam jantung mulai dipasang di perut, dan mulai memencet tombol kalau ada kontraksi datang. Nggak lama kemudian bidan datang untuk cek bukaan. Eng Ing Engggg, mulai deh deg-deg’an, acara colok-mencolok! Tapi untungnya, karena anak ke-dua, acara periksa dalam nggak sesakit anak pertama. Pas dicek, ternyata sudah bukaan 6! Yeay! Lega rasanya udah bukaan 6, tapi masih bisa santai. Suster juga tanya, “Kok Ibu masih bisa tenang?” Saya langsung jawab, “Coba mempraktekkan ilmu Hypnobirthing, Sus.” Saya juga bilang kalau anak pertama juga pake metode hypnobirthing. Saya juga nggak pinter-pinter amat kok sama ilmu hypnobirthing ini, intinya, kalau kontraksi datang, coba untuk relaksasi atau menenangkan diri, sambil terus berpikir positif. Dengan relaksasi itu yang membuat jalan lahir akan semakin cepat membuka secara natural.

Setelah cek detak jantung di UGD, saya langsung disuruh masuk ruang bersalin, karena sudah bukaan 6. Masuk ruang bersalin, kira-kira jam setengah 5, bidan juga bilang kira-kira saya bakalan lahiran jam 6’an. Di ruang bersalin, saya dan suami masih sibuk dengan gadget masing-masing. Saya masih sempet chat, update status, sampe twitteran! Kalau ditanya sakit apa nggak di bukaan 6, yah menurut saya masih biasa saja. Setiap setengah jam sekali bidan periksa dalam, bukaan makin maju seperti yang diperkirakan. Mulai di bukaan 8, rasa sakit mules yang tak terkira mulai datang. Lagi-lagi, saya mencoba relaksasi sendiri. Kalau waktu lahiran anak pertama ditemani bidan yang bisa memandu hypnobirthing, di lahiran yang kedua ini saya coba relaksasi sendiri. Kata suami, kalau yang pertama saja bisa yang kedua juga pasti bisa dan pasti prosesnya tidak akan lama.

Sampe bukaan 9, air ketuban belum juga pecah. Akhirnya, dokter memutuskan untuk dipecahin. Byurrrrrrr, terasa banget air ketuban masih banyak. Makin lama kontraksi makin sakit. Rasanya udah pengen ngeden aja, tapi masih belum boleh, kata dokter kepala masih di atas.

Oh iya, di sebelah saya juga ada satu ibu yang mau lahiran, pembukaannya sama, anak kedua juga, dan dokternya sama. Nah, loh? Siapa duluan yang lahiran yaaaa? Tapi ternyata sebelah duluan, jadilah saya nahan ngeden dengan sabarnya hingga giliran saya! Nah, seperti biasa, proses ngeden nggak sebentar. Saya merasa anak kedua ini beratnya juga nggak beda jauh sama anak pertama, yah kira-kira 3,7 kg. Hampir kurang lebih setengah jam ngeden, Alhamdulillah adek baby lahir juga. Argia Sachio Dirgantara lahir kurang lebih pukul 18.30, dengan berat 3,75 kg, dan panjang 50 cm. Ternyata benar kan dugaan saya! Hanya beda 0,05 kg dengan anak pertama! Nggak heran, selama hamil perut saya besaaaaar sekali.

Argia Sachi was born

Ternyata benar, yang membuat saya lahiran hari itu, yah karena nemenin Aurinko naik sepeda!

20121013_184716_Aladin_Round20121015_085440_Aladin_Round*muka totol merah karena mulai kenalan sama air waktu mandi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s